jam

Rabu, 13 Januari 2021

PENGENDALIAN HAMA WERENG SECARA TERPADU PADA TANAMAN PADI

 

Wereng merupakan hama yang sering ditemui pada tanaman padi. Hama wereng adalah sejenis serangga kepik terbang yang memiliki kebiasaan untuk menghisap cairan tanaman. wereng dibedakan menjadi 3 jenis yakni wereng hijau, wereng coklat dan wereng punggung putih. Wereng coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama yang sangat merugikan untuk tanaman padi. Wereng merupakan serangga yang biasa bergerak dalam kawanan yang banyak dan mampu berpindah tempat dengan terbang hingga 100 km. Dalam perkembangbiakannya wereng juga tergolong sangat cepat sehingga akan menyerang suatu wilayah dengan cepat. Selain menghisap cairan pada tanaman padi, ternyata wereng juga mampu menularkan virus tungro. Hal ini tentu saja akan berbahaya bagi pertumbuhan tanaman.

Untuk pengendalian hama wereng, biasanya petani menggunakan bahan kimia berupa insektisida tipe kontak dan sistemik berbahan aktif sipermetrin ataupun imadikoplorid. Namun penggunaan bahan kimia ini secara terus menerus bisa mengakibatkan wereng menjadi resisten terhadap insektisida yang digunakan, sehingga akan sulit dikendalikan dikemudian hari. Oleh karena itu diperlukan pengendalian hama secara terpadu yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah dengan pengendalian hayati. Pengendalian hayati lebih ramah terhadap lingkungan dan tidak akan menyebabkan resisten pada hama. Pengendalian hayati salah satunya dengan cara inundasi. Inundasi adalah memasukkan agen hayati dari luar dengan sengaja ke pertanaman untuk mengendalikan hama. Inundasi yang dapat dilakukan adalah penggunaan cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae sebagai agen hayati. Bahan aktif untuk cendawan ini dijual dibeberapa situs belanja online maupun toko petranian, sehingga mudah untuk ditemui.


Deskripsi Beauveria Bassiana

Beauveria Bassiana merupakan jamur entomopatogenetik yang dapat menyebabkan sakit bahkan kematian bagi serangga hama. Jamur beauveria akan tumbuh pada serangga dan kemudian membentuk akan membentuk spora di dalam tubuh serangga/ hama dan lambat laun hama akan mati dengan sendirinya.

Cara Penggunaan:

100 gram beauveria dicampur 14 liter air, bisa ditambakan gula sebagai perekat kemudian dimasukan tangki dengan cara disaring. Aplikasikan pada padi pagi hari sebelum jam 9 atau sore hari setelah jam 3.

Deskripsi METARHIZIUM Anisopliae.

Insektisida Organik Pengendali berbagai Jenis Serangga Pengganggu Tanaman-METARIZIUM
1. Metarhizium Anisopliae merupakan Jamur Entomopatogen yang dapat dijadikan sebagai salah satu agen hayati untuk mengendalikan serangga baik serangga yang menyerang tanaman maupun
organisme antagonis yang berada dalam tanah.
2. Jamur ini bersifat parasit terhadap serangga yang akhirnya dapat menyebabkan penyakit bila
menginfeksi serangga, sehingga dapat menurunkan populasi serangga hama dalam suatu areal
pertanian.
FUNGSI:
- Mengendalikan lebih dari 50 jenis serangga, di antaranya : Kumbang Gandum (Anisopliae Austriaca), Hama Tebu (Cleanus Punctiventris), Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinocheros), Kumpang Kelapa, Hama Bubuk Kopi, Helopeltis, Caplak, Tungau, Wereng Batang Coklat, Wereng Hijau, Walang Sangit, Penggerek Batang, Pengerek Jagung, Aphis sp, Myzus sp, Ulat Grayak (Spodoptera sp), Uret, Kepik Hama, Belalang, Ulat Jengkal, dll.

Cara pengunaan:

 100 gram Metarhizium dilarutkan dalam 10 - 15 liter air (satu tangki) kemudian di semprotkan ke sekitar perakaran, batang dan daun secara merata atau 3 - 4 kg / ha dengan kebutuhan larutan
semprot 400 - 500 liter.
CATATAN :
1. Efektifitas Metarhizium anisopliae di lapang sangat dipengaruhi oleh tingkat virulensi, viabilitas & konsentrasi spora.
2. Dalam aplikasi di lapangan perlu ditambah Perekat / Perata / Penembus untuk menghilangkan
ketegangan permukaan spora sehingga terpisah satu dengan yang lain.
3. Di samping itu perlu ditambah gula pasir untuk nutrisi tambahan bagi Metarhizium Anisopliae (untuk tiap tangki ukuran + 10 liter ditambahkan 1 (satu ) Tutup Perekat & 2 (dua ) sendok teh gula pasir.
4. Waktu aplikasi sebaiknya pada sore hari untuk menghindari sinar ultra violet yg akan menurunkan efektifitas cendawan Metarhizium Anisopliae.

            Selain menggunakan cendawan, bisa juga menggunakan musuh alami/ predator wereng yang dilepaskan pada areal yang terserang. Musuh alami wereng antara lain adalah laba-laba serigala, kepik mired, kumbang koksinelid, capung jarum, kumbang paedorus, belalang bertanduk panjang, kumbang karabid. Untuk memanfaatkan predator ini kita harus melakukan pengamatan minimal 1 minggu 1 kali.

Penyebab berkembangnya hama wereng cokelat antara lain perubahan biotipe dan penanaman varietas rentan. Untuk mengurangi penggunaan insektisida juga bisa dengan menggunakan varietas tanaman padi tahan hama wereng. Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru padi tahan wereng cokelat, antara lain Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan.

Inpari 18 mampu berproduksi hingga 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 102 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Selain tahan hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, Inpari 18 juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Padi unggul ini cocok dikembangkan pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian tempat 0-600 m dari permukaan laut (dpl).

Varietas Inpari 19 memiliki potensi hasil 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 104 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, padi unggul ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Inpari 19 sesuai ditanam pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian lokasi pengembangan 0-600 m dpl.

Inpari 31 berpotensi hasil 8,5 t/ha dengan rata-rata 6,0 t/ha, umur 112 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 21,1%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III, tahan penyakit blas ras 033, dan tahan penyakit tungro ras Lanrang. Inpari 31 cocok dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl.

Varietas Inpari 33 mampu berproduksi 9,8 t/ha dengan rata-rata 6,6 t/ha, umur 107 hari, tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa 23,4%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri protipe III, dan tahan penyakit blas ras 073. Inpari 33 sesuai dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik penyakit tungro.

Inpari 34 Salin Agritan berumur genjah 102 hari dengan potensi hasil 8,1 t/ha, rata-rata 6,0 t/ha, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 22,8%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, varietas unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 033 dan 173, toleran salinitas, dan dapat dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 500 m dpl.

Inpari 35 Salin Agritan berpotensi hasil 8,3 t/ha, umur 106 hari, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 24%. Agak tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1, padi unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 073, dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik tungro.

Sumber : Badan Litbang Pertanian

Selain itu juga bisa dilakukan pengendalian hama secara mekanik dan fisik. Pengendalian secara mekanik dan fisik antara lain:

1.      Genangi persemaian, selama sehari, sampai hanya ujung bibit saja yang terlihat.

2.     Sapu persemaian dengan jaring untuk menghilangkan wereng (tapi tidak telurnya), terutama dari persemaian kering. Pada kepadatan wereng yang tinggi, penyapuan tidak akan dapat menghilangkan wereng dalam jumlah banyak dari bagian basal tanaman.

3.     Memperluas jarak tanam, penggunaan sistem tanam jajar legowo juga bisa mengurangi ledakan hama wereng.

4.  Tanam tanaman refugia di sekitar lahan pertanian. Jenis tanaman yang berpotensi dijadikan sebagai tanaman refugia adalah jenis tanamanberbunga yang mempunyai warna mencolok, seperti: Bunga Matahari, Bunga Kertas, Bunga Jengger Ayam (Celosia), Bunga Kenikir, dan Bunga Tahi Ayam (Marigold).


Untuk mengurangi adanya ledakan hama wereng juga bisa dengan cara penanaman padi secara serentak. Hal ini dapat pencegah mobilisasi dari hama wereng, sehingga meminimalisir terjadinya ledakan hama. Selain itu juga harus dilakukan pergiliran tanaman agar hama tidak menetap pada satu lahan terus menerus.

Upaya lain yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama wereng dengan mengurangi penggunaan bahan kimia adalah penggunaan insektisida nabati sebagai pengganti bahan kimia yang berbaya dan dapat menyebabkan resisten pada hama wereng. Penggunaan insektisida nabati dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan resistensi pada hama wereng sehingga lebih ramah lingkungan. Insektisida nabati terbuat dari tanaman yang dimanfaatkan sebagai insektisida, sehingga untuk harganya pun lebih terjangkau. Selain itu petani juga dapat memproduksi sendiri insektisida nabati. Penggunaan insektisida nabati pun juga dirasa cukup efektif berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ( Kardinan, 2011). Gambar dibawah ini merupakan dokumentasi pengendalian hama wereng menggunakan insektisida nabati di Kelompok Tani Mulyo Desa Tanggung Kecamatan Campurdarat.


Dalam    penelitian Sarjan (2009) menunjukkan bahwa insektisida nabati secara umum  bahan aktifnya berasal dari tumbuh‐tumbuhan yang bersifat racun bagi organisme pengganggu, mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, dan fenolik. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida nabati adalah tanaman tali putri (Cassytha filiformis L.). Ekstrak pada tanaman ini mengandung saponin yang merupakan kelompok metabolit sekunder sehingga dapat digunakan sebagai insektisida nabati.

 

Referensi:

BBPadi. 2015. Padi Unggul Baru Tahan Hama Wereng Batang Cokelat. Diakses pada 12 Januari 2021 < http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/info-teknologi/padi-unggul-baru-tahan-hama-wereng-batang-cokelat >

Baehaki S.E. 2011. Strategi fundamental pengendalian hama wereng batang coklat dalam pengamanan produksi padi nasional. Pengembangan Inovasi Pertanian 4(1): 63-75.

Effendi, B. S. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam perspektif praktek pertanian yang baik (good agricultural practices). Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1): 65-68.

Kardinan, A. 2011. Penggunaan pestisida nabati sebagai kearifan lokal dalam pengendalian hama tanaman menuju sistem pertanian organik. Pengembangan Inovasi Pertanian 4(4): 262-278.

Sumarni, T. 2019. Cara Mengatasi Hama Wereng Secara Alami. Diakses pada 12 Januari 2021 < http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/75369/cara-mengatasi-hama-wereng-secara-alami/ >

Wibowo, A. 2017. Petunjuk Lapangan Pengendalian Hama Wereng Coklat. Diakses pada 12 Januari 2021 < http://pertanian.magelangkota.go.id/informasi/teknologi-pertanian/124-petunjuk-lapangan-pengendalian-hama-wereng-coklat >

Kamis, 07 Januari 2021

PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH TANGGA DENGAN CARA PENGOLAHAN SAMPAH DAPUR MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DENGAN METODE EMBER TUMPUK

Sumber: Qonita Aulia Zahidah, 2020

        Karena adanya kelangkaan ketersediaan pupuk akhir-akhir ini, maka perlu adanya trobosan atau alternatif lain sebagai pengganti pupuk dalam memenuhi kebutuhan akan unsur hara pada tanaman. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah pemanfaatan limbah rumah tangga/ sampah dapur menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dengan menggunakan metode ember tumpuk. Dengan begitu saat pupuk sedang langka atau harganya naik petani dapat menggantinya dengan POC buatan sendiri yang lebih ramah lingkungan, mudah didapatkan dan tentunya harganya lebih terjangkau (Jongtae, 2010). Selain ramah lingkungan pembuatan POC juga tidak membutuhkan biaya yang besar, dan hanya memanfaatkan limbah rumah tangga (sisa buah, sayur, nasi, dll) serta bisa juga menggunakan ember bekas cat. Cara pembuatannya pun tidak rumit, berikut cara membuat POC dengan menggunakan metode ember tumpuk yang bisa dilakukan dirumah : 
 Alat dan bahan yang digunakan antara lain: 
1. 2 Buah Ember 
2. Pisau, solder, gunting 
 3. Kran Air 
4. Lem Pipa 
5. Sampah Dapur (Limbah Buah untuk 2 minggu awal, setelah 2 minggu bisa dimasukkan nasi sisa) 
Metode Pembuatan Ember Tumpuk: 
a. Ember Bagian Bawah 
Berfungsi sebagai penampung lindi, yang kemudian akan diolah menjadi pupuk organik cair. 
1. Melakukan pemasangan kran (kran dispenser yang ada seal ganda dipilih agar rapat) dengan posisi di samping bawah ember, sekitar 5 cm di atas dasar. 
 2. Tutup ember dipotong, diambil bagian tepinya saja, digunakan sebagai penyangga ember atas.
b. Ember Bagian Atas 
Berfungsi sebagai penampung sampah yang di olah. 
1. Membuat lubang-lubang kecil (diameter 5 mm) sebanyak mungkin pada bagian bawah untuk pengatusan. 
 2. Membuat lubang kecil sebanyak empat buah (diameter 5 mm), pada bagian samping atas ember di bawah tutup. Fungsi lubang kecil tersebut untuk mengatur sirkulasi udara dan tempat masuk telur atau larva muda yang baru saja menetas.
Cara kerja ember tumpuk : 
1. Sampah organik sisa rumah tangga dimasukkan secara berkala ke dalam ember, apa adanya, tidak perlu dipotong-potong atau dicuci. Ember ditutup kembali hingga rapat. Suasana panas dan lembab di dalam ember membuat mikrobia bawaan dari buah akan cepat berkembang.
2. Aroma senyawa volatil yang dihasilkan akan keluar melalui lubang kecil, mengundang induk lalat Hi untuk datang meletakkan telur. Telur akan menetas menjadi larva muda dalam beberapa jam dan bergerak masuk menuju material yang mulai terombak. 
 3. Lindi yang dihasilkan dibiarkan saja di dalam ember bawah selama kurang lebih satu bulan. Setelah itu baru dapat diteruskan proses pematangan menjadi pupuk organik cair (POC). Proses pematangannya yaitu dengan cara membuka kran, Kemudian lindi dimasukkan ke dalam botol bening, separuh saja, tutup dikendorkan, kemudian dijemur di terik matahari sampai warna berubah menjadi hitam coklat dan aroma lembut di hidung. (masih menunggu 1 bulan lagi)
4. POC yang sudah jadi dapat dipakai dengan cara diencerkan menjadi 5%, sekitar tiga sendok makan POC ditambahkan 1 liter air. POC dapat pula disimpan dalam drum tanpa batas kadaluarsa untuk digunakan pada musim berikutnya. 
5. Larva Hi dan kompos, dapat dipanen secara berkala. Larva Hi (magot) mengandung protein 40% dan lemak 30%, sangat baik dipakai sebagai pakan ikan dan ayam. Magot dapat diberikan langsung atau ditepungkan terlebih dahulu. Kompos yang dihasilkan dapat ditiriskan dan diayak untuk dipakai langsung. Kompos dapat juga dipakai sebagai sumber mikroba perombak untuk pengomposan bahan yang lain seperti kotoran kandang ternak atau dedaunan. 
    Pemanfaatan limbah rumah tangga ini diharapkan dapat membantu petani dalam mengatasi permasalahan kelangkaan pupuk, karena pembuatannya yang mudah dan biayanya bisa terbilang ramah dikantong. Selain itu POC juga ramah lingkungan karena terbuat dari bahan organik. Dari pemanfaatan limbah rumah tangga dengan metode ember tumpuk selain menghasilkan POC juga menghasilkan 2 produk sampingan yang tidak kalah bermanfaat yaitu Larva Hi dan kompos. Larva Hi (magot) sangat baik dipakai sebagai pakan ikan dan ayam. Magot dapat diberikan langsung atau ditepungkan terlebih dahulu. Kompos yang dihasilkan dapat ditiriskan dan diayak untuk dipakai langsung. Kompos dapat juga dipakai sebagai sumber mikroba perombak untuk pengomposan bahan yang lain seperti kotoran kandang ternak atau dedaunan. POC yang dihasilkan juga bisa terbilang efektif dalam meningkatkan hasil tanam. Kombinasi antara pupuk anorganik dengan pupuk organik cair pada P6 (NPK 100% + POC 100%) memberikan hasil yang paling baik pada seluruh parameter pengamatan ialah pada tinggi tanaman, indeks khlorofil, total jumlah bunga, jumlah buah dan bobot segar buah/tanaman. Peniliaian keefektifan pupuk juga menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik cair efektif pada pertumbuhan dan hasil tanaman Cabai Besar (Silalahi & Tyasmoro, 2020). 



Tutorial pembuatan dibawah:  
 Referensi: 
Hadisuwito, S. 2012. Membuat Pupuk Organik Cair. Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan. Jongtae L. 2010. Effect of application methods of organic fertilizer on growth, soil chemical properties and microbial densities in organic bulb onion production. Scientia Horticulturae 124(3): 299-305. Silalahi, S. H., S. Y. Tyasmoro. 2020. Uji efektivitas pupuk organik cair pada pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.). Junal Produksi Tanaman 8(3): 321-328.

Rabu, 06 Januari 2021

Pembagian Kartu Tani di Tengah Pandemi

Pemerintah terus melakukan penyempurnaan dalam implementasi penggunaan Kartu Tani. Lewat Kartu Tani, pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan mendistribusikan pupuk bersubsidi. Oleh karena itu, penyebaran Kartu Tani ke seluruh Tanah Air akan dilakukan bertahap dan diharapkan bisa diberlakukan secara efektif pada 2021. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Kartu Tani memiliki manfaat yang baik buat petani. Khususnya buat penerima pupuk subsidi. “Pola pendistribusian pupuk subsidi terus kita perbaiki. Sehingga saat ini data penerima pupuk subsidi bisa valid hingga 94%. Data ini akan akan semakin diperkuat dengan Kartu Tani yang kriterianya berdasarkan by name by address. Dengan cara ini, kita harapkan pupuk bersubsidi benar-benar diterima oleh pihak yang membutuhkan,” tuturnya. Sementara itu untuk khususnya wilayah kecamatan campuradarat Kabupaten Tulungagung dalam pendistribusian kartu tani masih terhambat oleh beberapa faktor yaitu salah satunya adanya pandemi virus civid-19 yang melarang warga untuk berkerumun, selain itu juga masih menunggu hasil cetakan kartu tani oleh pihak Bank.
Tetapi demikian untuk kartu tani tetap didistribusikan sampai ke petani dengan melalui berbagai mekanisme dengan harapan supaya segera mungkin kartu tani dapat segera difungsikan sebagaimana mestinya.

Selasa, 23 Juli 2013

PENGENDALIAN WERENG

     Bulan Juli ini lahan pertanian di Tulungagung banyak yang diserang hama, hama khususnya hama wereng.Tidak terkecuali Desa Gedangan Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.Dari hamparan empat Kelompok tani yang ada di desa Gedangan semua diserang hama wereng dengan tingkat kerusakan 10% - 40%.
     Agar serangan hama wereng tidak semakin meluas dan tingkat kerusakan semakin bertambah dari Penyuluh Pertanian, Petugas POPT dan Mantri tani berupaya mengajukan bantuan pestisida pada Dinas Pertanian kabupaten Tulungagung.Bantuan Insektisida didapat Kelompok tani Dewi Sri, Dewi Shinto, Dewi Ratih dan Dewi Toro pada tanggal 18 Juli 2013 dengan merk " manuver" kemasan 1 literan sebanyak satu karton berisi 10 botol.
     Keesokan harinya para petani Desa gedangan berbondong - bondong mendatangi 4 titik yang dijadikan lokasi penyemprotan massal hama wereng sambil membawa handsprayer.Kegiatanpenyemprotan massal dimulai pukul 07.30 WIB dengan didampingi Sigit triwantoro selaku Penyuluh Pertanian setempat dengan dikoordinasi pengurus kelompok masing - masing.

Selasa, 05 Februari 2013

RAT Gapoktan Tani Makmur Tutup Buku 2012, Selasa 22 Januari 2013



RAT  GAPOKTAN TANI MAKMUR TUTUP BUKU 2012
DESA SAWO KECAMATAN CAMPURDARAT KABUPATEN TULUNGAGUNG
SELASA  22 JANUARI 2013





      Pada hari selasa tanggal 22 Januari 2013 , bertempat di Balai Desa Sawo Kec. Campurdarat Kabupaten Tulungagung, Gapoktan Tani Makmur Desa Sawo mengadakan RAT tutup buku 2012. Gapoktan Tani Makmur mendapat dana PUAP  pencairan dana bulan Februari 2010 pada RAT kali ini telah mendapat jasa pinjaman sebesar Rp 31.027.000,00  dengan total modal Rp 166.085.490,00. Acara RAT Gapoktan Tani Makmur dihadiri pihak BKPP Kab.Tulungagung yang diwakili Bpk. Agus, SP, Dinas Pertanian Kab. Tulungagung diwakili Ir. Edi Purwo sedangkan dari BPP Campurdarat dihadiri Koordinator  Bpk. Suwoto, SP. Kegiatan RAT selain pelaporan kegiatan tutup buku 2012 juga mengadakan pergantian pengurus periode 2013-2017 adapun pengurus baru Gapoktan Tani Makmur Desa Sawo
     Ketua                   :    J LAMIDI
     Skretaris              :    ANITA DWIYANI,SP
     Bendahara           :     SUKARJI
     Harapan Bpk Suwoto, SP dalam sambutannya Gapoktan Tani Makmur yang merupakan Gapoktan rangking satu dari 48 Gapoktan yang eksis kedepan lebih maju dan kompak serta mengembangkan Unit-unit usaha diluar unit LKM-A yang sudah ada. Motivasi ini sangat mendorong PPL Pendamping Ir. Sujarwo beserta pengurus Gapoktan untuk lebih memacu perkembanagan Gapoktan Tani Makmur tahun mendatang.

Jumat, 11 Januari 2013

HUJAN YANG DITUNGGU



  
Hujan yang ditunggu..................
Banyak lahan didesa Gedangan Kecamatan Campurdarat yang dibiarkan kosong istilahnya “diberokan”  sejak bulan Oktober oleh para petani dikarenakan para petani tersebut menunggu hujan turun agar mereka bisa bercocok tanam padi. Ada juga sedikit Petani yang mencoba menanam Kacang hijau dengan harapan ketika musim hujan tanaman tersebut sudah bisa dipanen.
Baru pada minggu ke-3 bulan Nopember hujan mulai turun dengan dengan volume yang sedikit.Setelah dirasa cukup air  pada minggu  ke-4 bulan Desember petani mulai melakukan pengolahan tanah dan mempersiapkan pesemaian untuk tanaman padi.Menurut Mukadji selaku Ketua Kelompok tani  Dewi ratih diharapkan nanti sekitar pertengahan bulan januari 2013 para petani dapat melakukan tanam serentak guna meminimalisir serangan hama dan penyakit.

PENULIS               : SIGIT TRIWANTORO
EDITOR                 :SIGIT TRIWANTORO

Senin, 15 Oktober 2012

5 TITIK SLPTT



5 TITIK SLPTT

          Desa Gedangan merupakan salah satu desa di wilayah binaan BPP Campurdarat yang mendapatkan program SLPTT tahun 2012. Dari 4 kelompok tani yang ada didesa Gedangan kecamatan Campurdarat terdapat 5 titik SLPTT seperti yang dituturkan Cahyo nugroho selaku Mantri pertanian Kecamatan Campurdarat.
           Dalam kegiatan SLPTT tahun ini SLPTT tanaman Kedelai terdapat pada kelompok tani Dewi toro , Dewi sri dan Dewi sinto. SLPTT tanaman Padi Hibrida terdapat pada kelompok tani Dewi ratih. SLPTT tanaman Padi non Hibrida terdapat pada kelompok tani dewi sinto. Dengan demikian Kelompok tani Dewi sinto mendapatkan 2 sekolah lapang dengan 2 komoditas yaitu Kedelai dan Padi non hibrida.


PENULIS   : SIGIT TRIWANTORO
EDITOR     : SIGIT TRIWANTORO